Retrofit Bangunan yang Rusak akibat Gempa

Akhir-akhir ini banyak gempa bumi yang merusak terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia. Gempa tersebut menyebabkan banyak korban jiwa maupun kerugian harta. Besarnya kerusakan dan kerugian akibat gempa cenderung bertambah di masa yang akan datang. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa penduuduk dunia semakin bertambah dan daerah pemukiman semakin banyak dibangun di daerah rawan gempa. Banyak bangunan yang dibangun tidak mengikuti prinsip-prinsip dasar bangunan tahan gempa; bahkan di banyak tempat di dunia, mutu bahan dan mutu pengerjaan sedemikian rendahnya sehingga kemungkinan bangunan rusak atau ambruk sangat besar, walaupun gempa yang terjadi tidak tergolong gempa besar. Suatu hal yang kurang menguntungkan adalah kenyataan bahwa yang terbanyak mengalami kerugian adalah negara-negara yang belum atau sedang berkembang. Jadi mayoritas bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan termasuk dalam konstruktis nir-rekayasa ("non-engineered").

Segera setelah terjadi suatu gempa, biasanya terjadi keraguan untuk menentukan bangunan mana yang harus dibongkar, bangunan mana yang masih dapat diperbaiki, dan bangunan mana yang harus diperkuat serta bagaimana melakukannya.

Manual-manual yang sudah ditulis dan dapat didownload dari link di bawah ini, mencoba menjawab hal tersebut di atas dan memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan secara mudah, praktis, sederhana dan relatif murah. Cara-cara yang dianjurkan dan detail-detail yang digambarkan khusus untuk bangunan tembokan tanpa perkuatan, bangunan tembokan dengan perkuatan dan bangunan beton bertulang sederhana. Detail-detail tersebut merupakan prinsip dasar dan syarat minimum untuk dapat memberikan ketahanan terhadap gempa.

Walaupun derajat kegempaan tidak sama di semua daerah, tetapi prinsip-prinsip tetap dapat dipakai dengan sedikit penyesuaian.